Tips Temukan Celah Untuk Mendapatkan Cuan Dari Investasi NFT

Fakta Seputar NFT di Industri Musik: Untung atau Buntung?  

Beberapa waktu terakhir ini, Non Fungible Token (NFT) mulai menjadi tren di Indonesia. Sebab, instrument tersebut tidak hanya bisa mendigitalisasi aset berupa karya seni seseorang dan menyimpannya ke sistem blockchain saja, namun juga dapat diperjualbelikan dan berpeluang menjadi investasi.

Secara sederhana, menurut Budi Raharjo selaku Pendiri sekaligus Direktur OneShildt Financial Planning, NFT bisa dibilang serupa dengan uang kripto karena keduanya sama – sama memanfaatkan teknologi blockchain. Tapi bedanya, uang kripto berupa koin yang diperdagangkan dalam jumlah tertentu, sementara NFT adalah karya seni digital yang jumlahnya bisa jauh lebih terbatas dari kripto.

NFT memiliki dua nilai aset, yakni riil dan finansial. Secara riil, aset NFT diibaratkan properti, emas batangan, patung, lukisan, dan lain sebagainya. Sementara secara finansial, NFT memang bukan aset seperti surat utang atau obligasi, saham, deposito, maupun asuransi. Namun, NFT ini memiliki potensi kenaikan nilai, sebagaimana halnya aset kripto.

Lantaran NFT memiliki potensi sebagai instrument investasi, maka sejatinya instrument ini sah – sah saja jika ingin dianggap menjadi investasi oleh seseorang. Namun, ibarat instrument investasi lain, NFT juga memiliki risiko.

Lantas, bagaimana jika kita ingin menjajal investasi NFT? Apa saja yang perlu diperhatikan agar mampu menemukan celah untuk mendapatkan cuan? Berikut dibawah ini tipsnya :

  1. Bukan Tujuan Keuangan

Menurut Budi, hal utama yang perlu diperhatikan dari NFT yaitu instrumen yang bisa menjadi investasi, namun bukan untuk tujuan keuangan.

Pasalnya, menurut Budi, nilai NFT saat ini masih sangat variatif. NFT sedikit mirip dengan uang kripto yang awalnya hanya untuk pertukaran di sebuah komunitas saja, meski kemudian berkembang dan dapat diperjualbelikan secara luas.

Namun, uang kripto sudah ada regulasi dan skema perdagangan yang jelas. Sementara NFT masih sangat spekulatif karena belum ada regulasi dan skema perdagangan. Perlu diingat, agar pembelian NFT ini tidak hanya sekedar untuk aset koleksi maupun berharap investasi saja, tapi lakukan saat fondasi keuangan sudah benar – benar cukup prima.

  1. Alokasi Dana Khusus

Kemudian, saat ingin membeli NFT dan menjadikan aset, maka alokasikan dana khusus dari keuangan. Namun, pastikan alokasinya tidak menganggu pos keuangan lain. Seperti dana kebutuhan sehari – hari, dana darurat, cicilan kredit pemilikan rumah (KPR), tabungan dana pendidikan anak, tabungan pensiun, dan lain sebagainya. Sebagaimana investasi, maka sebaiknya pembelian NFT diambil dari dana yang benar – benar menganggur. Itupun tidak harus semuanya karena jangan lupa untuk diversifikasi aset investasi ke instrumen lainnya.

  1. Pahami Risiko

Hal yang tidak boleh dilewatkan yaitu memahami instrumen ini. Karena itu, kita perlu mempelajari dulu apa itu NFT, bagaimana cara membelinya, atau bahkan menjualnya, kemudian bagaimana transaksi jual belinya, serta apa hal – hal yang mempengaruhi nilainya, hingga risikonya.

Jika ingin serius berinvestasi di instrument ini, maka perlu mempelajari bagaimana fluktuasi dan perkembangan harga yang bisa terjadi. Begitu juga risiko terhadap peretas alias hacker misalnya karena NFT adalah aset digital.

NFT memiliki risiko ganda karena bisa dianggap sebagai aset riil serta finansial. Dari segi riil, maka terdapat potensi penurunan nilai aset secara mekanisme dan kerawanan hilang. Sementara dari segi finansial, terdapat risiko dari fluktuasi nilai mata uang kripto. Sebab, pembelian NFT menggunakan uang kripto, sehingga jika harga uang kripto bergerak, maka akan menimbulkan perbedaan harga bagi NFT pula.